Saham Bukalapak Terbang Tinggi Hingga Mentok, Gara-gara Aksi Pompom?

Jakarta – Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) melesat pada perdagangan perdana hingga menyentuh auto reject atas. Saham unicorn yang pertama kali melantai di bursa itu bertengger di level Rp 1.060 per saham atau naik 24,71% dari posisi penawaran Rp 850 per saham.
Sejalan dengan itu, hashtag #BukalapakIPO bergema di Twitter. Hashtag tersebut diramaikan oleh para pesohor influencer serta selebtwit.

Aksi pompom saham pun dikait-kaitkan dengan penguatan saham Bukalapak. Benarkah itu terjadi?

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menjelaskan, jika didefinisikan pompom berarti pump yang berarti menaikkan harga saham secara signifikan dengan melontarkan pernyataan positif yang salah dan menyesatkan. Dengan defisini itu, ia menilai kenaikan saham Bukalapak bukan dampak dari pompom saham.

“Saya melihat untuk kenaikan saham BUKA di hari pertama IPO bukan dampak dari pompom,” katanya kepada detikcom, Minggu (8/8/2021).

Dia menjelaskan, pada masa penawaran pihak underwriter menyampaikan telah terjadi kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 8,7 kali. Sehingga, dilakukan penambahan 2,5% menjadi 5%.

“Artinya pasca kenaikan alokasi tetap mengalami oversubscribed, hitungan kasar saya 40 juta lot-an. Sehingga investor yang tidak mendapatkan saham BUKA di pasar perdana melakukan pembelian di pasar sekunder sementara pada saat hari pertama hanya sebanyak 5,2 juta lot yang ditransaksi,” ujarnya.

Menurutnya, animo beli ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama, investor memiliki ekspektasi jika Bukalapak memiliki pertumbuhan yang tinggi ke depannya.

“Minat beli yang didasarkan ekspektasi investor bahwa BUKA memiliki pertumbuhan yang tinggi kedepannya karena ada di bisnis e-commerce sehingga PBV 3,7x di harga Rp 850 tidak dilihat sebagai sebuah valuasi yang premium karena ekspektasi pertumbuhan tadi. Bahkan ketika berada di harga Rp 1.060 PBV BUKA berada di level 4,6x masih lebih rendah dibandingkan PBV rata-rata emiten sektor teknologi 9,4x,” terangnya.

Kedua, Bukalapak merupakan emiten e-commerce pertama yang melantai di bursa dengan nilai IPO terbesar yang pernah ada.

“Dengan bisnis Bukalapak yang memiliki customer based ritel tentu membuat animo investor untuk membeli saham BUKA lebih besar dibandingkan emiten IPO sebelumnya. Dari pihak underwriter juga menyampaikan bahwa pembeli saham IPO buka di pasar perdana didominasi oleh investor milenial (70%) dan hype investor bursa saat ini juga di saham-saham sektor teknologi atau yang punya exposure ke digital,” jelasnya.

Bukalapak sendiri meraih dana Rp 21,9 triliun dari penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Direktur Utama Bukalapak Rachmat Kaimuddin menjelaskan dana tersebut akan digunakan sepenuhnya untuk modal kerja perusahaan dan anak perusahaan.

“Jadi seperti yang kita jelaskan di prospektus ya bahwa seluruh penggunaan dana IPO ini 100% akan digunakan untuk modal kerja perseroan dan entitas anak atau subsidiary,” katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (6/8).

Pihaknya akan melakukan investasi di beragam produk dan layanan untuk meningkatkan kinerja, profitabilitas, serta keberlangsungan.

“Fokus kita ke depannya tentu kita punya misi yaitu menciptakan fair economy for all ya, keadilan ekonomi yang adil dan merata, dengan cara apa? Kita ingin selalu memberdayakan UMKM, kita pengin dia bisa jualan lebih banyak, bisnisnya lebih maju, bisa volumenya lebih tinggi lagi, bisa pakai proses yang lebih modern dan sebagainya, channel-nya juga lebih banyak,” paparnya.

Sumber : Detik.com

Tinggalkan Balasan

Back to top button